KALIMAT ANJURAN DAN PUJIAN
KALIMAT ANJURAN
Kalimat anjuran digunakan untuk menganjurkan orang lain melakukan sesuatu. Dalam kalimat anjuran biasanya digunakan kata penghubung agar dan supaya.
KALIMAT PUJIAN
Memuji seseorang biasanya karena terdapat keheranan atau penghargaan kepada sesuatu yang dianggap baik, indah, atau gagah berani. Pujian merupakan kalimat yang menyatakan rasa pengakuan dan penghargaan yang tulus akan kebaikan atau keunggulan sesuatu. Dengan memakai kata amboi, aduhai, wah, wow, alhamdulillah, dan asyik.
Contohnya, “Wow, indah sekali pelangi itu”.
CONTOH KALIMAT ANJURAN
(1) Rajinlah belajar agar kamu bisa menjadi juara kelas.
(2) Minumlah susu setiap hari agar badanmu menjadi sehat dan kuat.
CONTOH KALIMAT PUJIAN
Pewawancara : Hai Kak Yuki, apa kabar?
Yuki Kato : Baik, sehat.
Pewawancara : Nama Kakak bagus dan unik ya, asalnya dari mana?
Yuki Kato : Aku berdarah campuran. Papaku Jepang-Italia dan
mamaku Sunda-Jawa.
Pewawancara : Asyik ya, sekarang kakak sudah jadi bintang terkenal,
memang cita-citanya apa, Kak?
Yuki Kato : Banyak. Dari kecil ingin jadi model, juga desainer, dan
seorang dokter.
SOAL…
1. Buatlah 2 contoh kalimat anjuran menggunakan kata penghubung agar, supaya!
2. Buatlah 2 contoh kalimat pujian menggunakan kata amboi, aduhai, wah, wow, alhamdulillah, dan asyik
Eka Fitri Lestari
Senin, 04 September 2017
Kamis, 07 Februari 2013
PROPOSAL
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penggunaan sastra yang dilakukan dengan benar dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan di bidang seni baik pengembangan kemampuan seni berpuisi ataupun seni peran. Pengajaran sastra tersebut lebih mendekati arah dan tujuan pengajaran dalam arti sesungguhnya. Salah satu perwujudan yang dilaksanakan melalui pendidikan, khususnya pendidikan formal yaitu pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yang disajikan di sekolah-sekolah, mulai sekolah tingkat rendah sampai ke perguruan tinggi. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan siswa yang terampil, membekali siswa dengan pengetahuan yang memadai dan membina mereka kea rah sikap positif.
Menanggapi masalah tersebut berbagai komentar bermunculan. Para guru dengan senada dan mengungkapkan berbagai alasan antara lain: keterbatasan waktu, kurangnya bahan bacaan bagi siswa, juga siswa lebih mementingkan bidang lain, seperti ekonomi dan politik yang menurut mereka lebih bermanfaat dibandingkan mengkaji seni atau bidang sastra. Sementara itu, jika ditinjau dari segi penyebarluasannya, karya sastra mampu menelusuri kedaerah terpencil, hingga ke perkotaan walaupun dengan peminat yang relative terbatas, dan bila ditinjau dari bentuk bobotnya dapat dikatakan belum menggembirakan, sehingga dengan keadaan tersebut ketidakberdayaan pengajar sastra di sekolah-sekolah.
Adapun tujuan pengajaran sastra di sekolah lanjutan tingkat pertama yaitu memperkenalkan apa dan mengapa sastra itu dipelajari, sehingga akan muncul rasa ingin tahu atau pengetahuan sastra yang dimiliki siswa lebih tinggi. Pengajaran sastra di sekolah merupakan bagian dari pengajaran bahasa. Pengajaran sastra mencakup pengajaran puisi (syair), prosa, dan drama. Pengajaran syair bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan tentang syair.
Pengajaran syair di sekolah merupakan bagian dari pengajaran bahasa. Pengajaran bahasa objektifitas dapat berupa puisi, prosa, dan drama. Puisi dapat terbagi atas dua pembagian yaitu: puisi lama yang terdiri dari pantun, syair , gurindam, dan lain sebagainya serta puisi modern.
Syair merupakan bentuk puisi lama yang mengandung suatu makna yang berkesinambungan yang ditentukan oleh bait dengan alinea-alinea sebuah cerita dan memiliki ciri-ciri khusus.
Syair jarang dutuangkan oleh guru, padahal di dalam isi syair banyak terkandung nilai-nilai moral yang berupa nasehat. Syair adalah jenis sastra tradisional dalam bentuk puisi. Secara konvensional, setiap bait syair terdiri atas empat baris, bersajak sama, merupakan isi keseluruhan, dan setiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata.
Dengan latar belakang demikian dan melihat akan pentingnya kemampuan siswa dalam memahami makna syair, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Metode Demonstrasi terhadap Kemampuan Memahami Syair Siswa Kelas XI SMA Harapan Bangsa Tanjung Morawa Tahun Pembelajaran 2010/2011”.
Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah merupakan tahapan untuk menjelaskan hal – hal yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Dengan identifikasi masalah akan diperoleh kejelasan yang konkret tentang sasaran yang diteliti. Setiap penulisan selalu bertitik berat dari adanya masalah yang dihadapi dan perlu pemecahannya. Seorang peneliti harus mengidentifikasi masalah menjadi objek penelitian. Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah :
Kurangnya minat siswa dalam membaca karya sastra lama.
Kurangnya pemahaman siswa terhadap isi syair.
Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dalam suatu penelitian merupakan hal yang penting. Hal ini dilakukan agar penelitian lebih terarah dan konsep yang dirincikan tidak menjadi kabur. Seperti yang dikatakan Ali (1987 : 37), “Masalah yang dikemukakan dalam penelitian harus dibatasi secara jelas dan operasional. Karena tanpa jelas batas-batasnya akan menyulitkan peneliti dalam menggarap dan memecahkannya, batasan masalah ini merupakan deskripsi mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti.”
Berdasarkan pendapat di atas, maka batasan masalah dalam penelitian ini yaitu : “Pengaruh Metode Demonstrasi terhadap Kemampuan Memahami Syair Siswa Kelas XI SMA Harapan Bangsa Tanjung Morawa Tahun Pembelajaran 2010/2011”.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan arah dari sebuah penelitian yang memberikan arahan yang tepat untuk mempermudah penelitian. Untuk menentukan data-data instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto (2006:26) yang mengatakan bahwa, “Apabila telah diperoleh informasi yang cukup dari studi eksploraritas, maka masalah yang diteliti menjadi jelas. Agar penelitian dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka peneliti harus merumuskan masalah.”
Berdasarkan pendapat dan pembatasan masalah yang diungkapkan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
Bagaimanakah pengaruh metode demonstrasi dalam pembelajaran syair siswa kelas XI SMA Harapan Bangsa Tanjung Morawa Tahun Pembelajaran 2010/2011?
Bagaimanakah kemampuan memahami syair siswa kelas XI SMA Harapan Bangsa Tanjung Morawa Tahun Pembelajaran 2010/2011?
Apakah terdapat pengaruh metode demonstrasi terhadap kemampuan memahami syair siswa kelas XI SMA Harapan Bangsa Tanjung Morawa Tahun Pembelajaran 2010/2011?
Tujuan Penelitian
Suatu kegiatan tanpa ada permasalahan maka tidak ada tujuan yang akan dicapai. Demikian pula dalam setiap penelitian yang dilakukan sudah tentu mempunyai tujuan. Untuk memperkuat uraian ini penulis mengutip pendapat Surakhmad (1995:32) yang mengatakan bahwa, “Setiap penelitian harus berisi terlebih dahulu penjelasan tentang tujuan, sebab dengan diketahui tujuan itu penulis maupun pembaca dapat mengarahkan pikiran serta dapat menempatkan uraian-uraian itu dalam proporsi yang lain.”
Berangkat dari pendapat di atas, penulis menempatkan tujuan penelitian yang akan dicapai. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui “Pengaruh Metode Demonstrasi terhadap Kemampuan Memahami Syair Siswa Kelas XI SMA Harapan Bangsa Tanjung Morawa Tahun Pembelajaran 2010/2011”.
Manfaat Penelitian
Setiap pekerjaan yang dikerjakan tentu diperkirakan ada manfaatnya. Demikian juga dengan halnya penelitian ini. Manfaat penelitian pada umumnya dapat digunakan untuk bahan rujukan penelitian selanjutnya dan dasar pertimbangan guru untuk perbaikan mutu pembelajaran.
Apabila tujuan telah dicapai maka hasil tersebut bermanfaat bagi penulis maupun orang lain juga lembaga penelitian. Adapun manfaat penelitian ini yaitu :
Sebagai bahan masukan bagi guru bahasa dan sastra Indonesia agar dapat lebih meningkatkan sistem pengajaran.
Sebagai bahan perbandingan untuk penelitian yang ingin mengkaji masalah yang sama di lokasi yang berbeda.
BAB II
LANDASAN TEORETIS
Kerangka Teoretis
Kerangka teoretis merupakan pendukung dalam suatu penelitian. Semua uraian atau pembahasan terhadap permasalahan haruslah didukung dengan teori-teori yang kuat. Oleh sebab itu, kerangka teoretis juga merupakan rancangan teori yang berhubungan dengan hakikat suatu penelitian untuk menjelaskan pengertian variabel yang akan diteliti.
Sehubungan dengan itu, maka diperlukan ketekunan dalam belajar. Melalui belajar, seseorang akan memperoleh ilmu pengetahuan. Didalam islam belajar merupakan suatu kewajiban bagi umat manusia. Dengan belajar, ilmu pengetahuan kita pun bertambah. Dengan bertambahnya ilmu pengetahuan, maka Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai firman Allah dalam surat Al-Mujaadillah ayat 11:
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan member kelapangan kepadamu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Terjemahan, 1995:910-911).
Pengertian Metode Mengajar
Metode pembelajaran adalah suatu cara, teknik atau langkah-langkah yang ditempuh dalam proses belajar mengajar. Hamalik (1993:11). Dari pengertian di atas penulis menyimpulkan metode mengajar adalah suatu pengetahuan yang digunakan oleh seorang guru atau instruktur. Pengertian lain ialah teknik penyajian yang dikuasai oleh guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa didalam kelas baik secara individual atau secara kelompok agar penjelasan itu dapat diserap, dipahami atau dimanfaatkan oleh siswa dengan baik. Makin baik metode mengajar semakin efektif pula pencapaian tujuan. Khusus metode mengajar di dalam kelas. Evektifitas suatu metode dipengaruhi oleh faktor tujuan, siswa, situasi dan guru itu sendiri.
Dengan demikian pengetahuan secara umum mengenai sifat berbagai metode, seorang guru akan lebih mudah menerapkan metode yang paling sesuai dalam situasi dan kondisi pengajaran yang khusus. Metode tidaklah mempunyai arti apa-apa bila dipandang terpisah dari komponen lain, metode hanya penting dalam hubungannya dengan segenap komponen lainnya, seperti tujuan, situasi.
Menurut Roestiyah (1991:3) syarat yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode adalah sebagai berikut:
Metode mengajar yang digunakan harus dapat membangkitkan motif, minat atau gairah belajar siswa.
Metode mengajar yang digunakan harus dapat menjamin perkembangan kegiatan pribadi siswa.
Metode mengajar dilakukan harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasil karya.
Metode yang digunakan harus dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut melakukan eksplorasi dan inovasi.
Metode mengajar yang digunakan harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.
Metode mengajar yang dipergunakan harus dapat mentiadakan penyajian yang bersifat verbalitas dan mengartikannya dengan pengalaman atau situasi yang nyata dan bertujuan.
Metode mengajar yang dipergunakan harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap utama yangdiharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik dalam kehidupan.
Diantara berbagai macam metode pengajaran yang ada maka dalam tulisan ini hanya dibahas tentang metode demonstrasi.
Metode Demonstrasi
Penggunaan metode demonstrasi dapat diterapkan dengan syarat memiliki keahlian untuk mendemonstrasikan penggunaan alat atau melaksanakan kegiatan tertentu seperti kegiatan yang sesungguhnya. Keahlian mendemonstrasikan tersebut harus dimiliki oleh guru dan pelatih yang ditunjuk, setelah didemonstrasikan, siswa diberi kesempatan melakukan pelatihan keterampilan seperti yang telah diperagakan oleh guru atau pelatih.
Dengan metode demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan. Dalam demonstrasi diharapkan setiap langkah pembelajaran dari hal-hal yang didemonstrasikan itu dapat dilihat dengan mudah oleh murid dan melalui prosedur yang benar dan dapat pula dimengerti materi yang diajarkan.
Menurut Sagala (2009:211) metode demonstrasi memiliki kelebihan antara lain:
Perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti. Disamping itu perhatian siswa pun mudah dipusatkan kepada proses belajar mengajar dan tidak kepada yan lainnya.
Dapat membimbing peserta didik kea rah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
Ekonomis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis dalam waktu yang panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan waktu yang pendek.
Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengarkan, karena murid mendapatkan gambaran yang jelas dari hasil pengamatannya.
Karena gerakan dan proses dipertunjukkan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
Beberapa persoalan yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi.
Menurut Sagala (2009:212) metode demonstrasi memiliki kelamahan antara lain:
Derajat visibilitasnya kurang, peserta didik tidak dapat melihat atau mengamati keseluruhan benda atau peristiwa yang didemonstrasikan, kadang-kadang terjadi perubahan yang tidak terkontrol.
Untuk mengadakan demonstrasi diperlukan alat-alat yang khusus. Kadang-kadang alat itu sukar didapat. Demonstrasi merupakan metode yang tak wajar bila alat yang didemonstrasikan tidak dapat diamati secara seksama. Dalam mengadakan pengamatan terhadap hal-hal yang didemonstrasikan diperlukan pemusatan perhatian. Dalam hal ini banyak diabaikan oleh murid-murid.
Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelas.
Memerlukan banyak waktu, sedangkan hasilnya kadang-kadang minimum.
Kadang-kadang proses yang didemonstrasikan di dalam kelas akan berbeda jika proses itu didemonstrasikan dalam situasi nyata/sebenarnya.
Agar didemonstrasi mendapat hasil yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran. Kadanng-kadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan sehingga apa yang diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.
Langkah-langkah pelaksanaan metode demonstrasi:
Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan disampaikan
Menyiapkan bahan atau alat yang diperlukan
Menunjuk salah seorang siswa untuk mendemontrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan.
Seluruh siswa memperhatikan demontrasi dan menganalisanya.
Tiap siswa mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemontrasikan.
Guru membuat kesimpulan.
Hakikat Kemampuan Memahami Syair
Sebelum kita memahami apa itu hakikat kemampuan memahami syair maka ada beberapa penjabaran yang perlu diungkapkan berkaitan dengan hal tersebut. Sebagaimana kita ketahui hakikat merupakan gambaran kenyataan yang berkaitan dengan sesuatu proses yang akan dilakukan. Oleh karena itu untuk mengetahui apa itu hakikat memahami makna syair maka disini kita harus mengetahui beberapa pengertian yang berkaitan dengan hal tersebut di atas. Beberapa pengertian tersebut mencakup pengertian kemampuan, memahami, dan syair.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 707) dinyatakan bahwa, “Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan kita berusaha dengan diri sendiri.” Sementara itu, Tarigan (1985: 1) mengemukakan bahwa, “Kemampuan / kompetensi diartikan sebagai pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa tentang bahasanya, dan nilai-nilai yang merupakan objek penting. Kemampuan adalah pengetahuan asli yang dimiliki individu secara tidak sadar, secara diam-diam, secara intuisit, dan terbatas.”
Berdasarkan pendapat di atas, dapat kita simpulkan bahwa kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, dan kemahiran yang dimiliki seseorang untuk melakukan sesuatu.
Menurut Suharto (1989:153), “Memahami berasal dari kata “paham” yang artinya tahu, mengerti betul.” Jadi, kemampuan memahami makna syair yang dimaksud di sini adalah kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam mengartikan sebuah syair.
Hakikat Syair
Pengertian Syair
Kata syair berasal dari bahasa Arab: sya’ara (menembang atau berkembang); sya’ir (penembang); sya’ar (syair atau tembang). Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa kata syair berasal dari kata syu’ur atau syi’ir (juga bahasa Arab) yang artinya perasaan. Dengan demikian ada yang mendefinisikan syair sebagai tembang (puisi) yang penuh curahan perasaan. Meskipun demikian, bentuknya bukan puisi Arab.
Syair merupakan jenis puisi yang berasal dari kesusastraan Arab. Menurut sejarahnya, syair sudah ada dalam kesusastraan Arab sebelum turunnya agama islam. Oleh karena itu, dalam kesustraan Arab dikenal syair pada zaman jahiliah dan syair zaman islam. Bentuk syair pada zaman jahliah tidak jauh beda dengan bentuk syair pada zaman islam, namun jiwa yang mengilhami sangat jauh berbeda. Syair pada zaman islam sangat kental dengan muatan religi dan keimanan terhadap keesaan Allah SWT.
Menurut Zainuddin (1992:116), “Syair adalah bentuk puisi lama yang terikat oleh jumlah larik setiap bait, jumlah suku kata setiap barisnya semua larik merupakan isi dan berirama akhir sama.” Syair masuk ke Indonesia (Melayu) bersamaan dengan masuknya agama islam. Bentuk syair paling tua dalam sejarah kesusastraan Indonesia adalah sebuah syair bentuk do’a yang tertera di sebuah nisan raja di Minye Tujoh, Aceh. Syair tersebut menggunakan bahasa campuran, yaitu bahasa Melayu Kuno, Sansekerta, dan Arab.
Dari beberapa defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa syair adalah puisi lama yang mencurahkan perasaan seseorang dalam penulisannya terikat oleh jumlah bait, jumlah baris, dan berirama sama disetiap akhir kalimat.
Contoh :
Syair yang berisi cerita : Syair Bidasari, Syair Ken Tambuhan, Syair Yatim Nestapa, Syair Panji Semirang, Syair Putri Hijau, Syair Anggun Cik Tunggal, Syair Raja Mambang Jauhari, Syair Putri Naga, dan Syair Pangeran Hasyim.
Syair yang mengisahkan kejadian : Syair Perang Banjarmasin, Syair Singapura Dimakan Api, Syair Perang Menteng, dan Syair Spilman.
Syair yang berisi ajaran agama : Syair Ibadat, Syair Injil, Syair Kiamat, dan Syair Perahu.
Penggolongan Syair
Syair keagamaan, seperti Syair Nur Muhammad, Syair Nabi Ayub.
Syair Kiasan, seperti Syair Burung Pungguk, Syair Terubuk.
Syair Panji, seperti Syair Panji Semirang, Syair Ken Tambuhan.
Syair Sejarah, seperti Syair Perang Makasar, Syair Emop, Syair Perang Aceh.
Syair Romantik atau Percintaan, seperti Syair Cinta Birahi, Syair Bidasari.
Syair Saduran, seperti Syair Darmawulan, Syair Tajul Muluk, Syair Wayang.
Ciri – Ciri Syair :
Menurut Waluyo (2005:46) ciri-ciri syair adalah sebagai berikut :
Terdiri empat larik (baris) tiap bait
Setiap bait memberi arti sebagai satu kesatuan
Semua baris merupakan isi (dalam syair tidak ada sampiran)
Sajak akhir tiap baris selalu sama (aa-aa)
Jumlah suku kata tiap baris hampir sama (biasanya 8-12 suku kata)
Isi syair berupa nasihat, petuah, dongeng, cerita, dan sebagainya.
Syair tertulis yang tergolong tua adalah karya-karya Hamzah Fansuri, seorang penyair mistik dari Aceh pada abad ke 17, seperti Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir.
Karya sastra berbentuk syair yang terakhir dapat dilihat dalam penerbitan Balai Pustaka tahun 1920-an dan tahun 1930-an. Syair-syair tersebut dikritik karena hanya mementingkan bentuk sehingga terdapat penggunaan kata-kata yang krang perl karena hanya menyamakan jumlah suku kata dan rima akhir.
Unsur – unsur syair
Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Tema mengacu pada penyair. Pembaca sedikit banyak harus mengetahui latar belakang penyair agar tidak salah menafsirkan tema puisi tersebut. Karena itu, tema bersifat khusus, objektif, dan lugas.
Perasaan berkaitan dengan perasaan yang disampaikan penyair melalui syairnya. Syair dapat mengungkapkan perasaan yang beraneka ragam, perasaan gembira, sedih, kecewa, benci, rindu, menyesal.
Nada merupakan sikap batin penyair yang hendak diekspresikan kepada pembaca. Misalnya ada nada menasihati, mencemooh, iri hati, penasaran, dan sebagainya.
Amanat berkenaan dengan maksud, pesan, atau tujuan yang hendak disampaikan penyair melalui syairnya. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. Sikap dan pengalaman pembaca sangat berpengaruh kepada amanat. Cara menyimpulkan amanat sangat berkaitan dengan cara pandang pembaca terhadap suatu hal. Meskipun ditentukan berdasarkan cara pandang pembaca, amanat tidak dapat lepas dari tema dan isi syair yang dikemukakan penyair.
Makna Syair
Makna syair adalah maksud atau gambaran yang dapat dipahami pembaca sebagaimana yang dimaksud penyair atau penulisnya. Mengingat bahasa yang disampaikan penyair secara tersirat dan implisit maka untuk memahami makna syair harus dapat menjalin untaian kata yang terdapat atau yang membangun puisi itu secara keseluruhan. Untuk dapat dapat memahami makna puisi harus melalui penelaahan atau penguraian kata-kata, larik-larik, bait-bait yang membangun puisi itu. Dengan demikian makna syair adalah suatu yang dapat dipahami berdasarkan untaian kata yang membangun syair itu.
Contoh : Syair Bidasari
Bibirnya bagai peta dicarik-carik, Lehernya jenjang kumbu ditarik, Beruncing emas bunga anggrek, Mungkin bertambah parasnya baik, Betisnya bagai bunting padi, Paras seperti nilakandi, Seperti hitam sudah diserodi, Dipagar nilam, intan dan pudi, Pinggangnya rapi, Dadanya bidang, Panjang lampai sederhana sedang, Cantik manjelis gilang gemilang, Tidak jemu mata memandang.
Syair Bidasari mengisahkan seorang putri raja yang dilahirkan ketika dalam pelarian di hutan, tetapi kemudian terpaksa dibuang oleh ibunya. Akhirnya putrid raja itu ditemukan dan dipelihara oleh saudagar kaya. Dia tumbuh menjadi gadis cantik yang kemudian diperistri oleh seorang raja bernama Indrapura. Diceritakan pula, Bidasari akhirnya memaafkan ibunya yang telah membuangnya, setelah adiknya mempertemukan antara Bidasari dengan ibunya. Cerita ini berakhir dengan bahagia.
Kerangka Konseptual
Menurut Sugiyono (2008:92) memberikan kerangka konseptual atau kerangka berfikir yaitu “merupakan sintesa tentang hubungan antara variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan.”
Pada kerangka teoretis telah dipaparkan pembahasan yang menjadi dasar dalam penelitian ini. Adapun hal-hal yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagia berikut :
Syair merupakan jenis puisi yang berasal dari kesusastraan Arab. Puisi lirik yang halus dan penuh dengan gejolak rasa penyairnya.
Jenis-jenis syair yaitu: syair keagamaan, syair kiasan, syair panji, syair sejarah, syair romantik, syair saduran.
Ciri-ciri syair yaitu:
Terdiri empat larik (baris) tiap bait
Setiap bait memberi arti sebagai satu kesatuan
Semua baris merupakan isi (dalam syair tidak ada sampiran)
Sajak akhir tiap baris selalu sama (aa-aa)
Jumlah suku kata tiap baris hampir sama (biasanya 8-12 suku kata)
Isi syair berupa nasihat, petuah, dongeng, cerita, dan sebagainya.
Unsur-unsur syair
Makna syair
Berdasarkan uraian di atas merupakan garis-garis besar dalam pembelajaran syair yang akan diterapkan oleh peserta didik.
Hipotesis Penelitian
Pengertian hipotesis menurut Sugiono (2006:70) adalah. “ Sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.” Jadi, hipotesis penelitian adalah jawaban terhadap penelitian yang dianggap paling tinggi dan paling mungkin kebenarannya, untuk membuktikannya dilakukan pengujian.
Sehubungan dengan pengertian tersebut, maka penulis mengajukan hipotesis penelitian ini sebagai berikut : “Terdapat pengaruh metode demonstrasi terhadap kemampuan memahami syair siswa kelas XI SMA Harapan Bangsa Tanjung Morawa Tahun Pembelajaran 2010/2011.”
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Harapan Bangsa Tanjung Morawa yang beralamat di jln. Darmosari dusun I Tanjung Baru Tanjung Morawa. Adapun penentuan sekolah tersebut didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut :
Di sekolah tersebut sepengetahuan penulis belum pernah diadakan penelitian mengenai masalah yang diteliti.
Jumlah siswa di sekolah itu cukup memadai untuk sampel penelitian sehingga data yang diperoleh lebih sahih.
Waktu Penelitian
Penelitian ini penulis rencanakan selama enam bulan setelah mendapat persetujuan dari dosen pembimbing dan kepala sekolah SMA Harapan Bangsa Tanjung Morawa yaitu mulai bulan Januari 2011 sampai dengan bulan Juni 2011. Adapun perencanaan waktunya dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL 1
RENCANA DAN WAKTU PENELITIAN
No Kegiatan Waktu / Bulan
Januari Februari Maret April Mei Juni
1 Penulisan Proposal
2 Seminar Proposal
3 Perbaikan Proposal dan Persetujuan Pembimbing
4 Pengambilan Data
5 Menganalisis Data Penelitian
6 Konsultasi dan perbaikan skripsi
7 Persetujuan pembimbing skripsi dan penggandaan skripsi
Populasi dan Sampel
Populasi
Salah satu langkah yang harus dilakukan seorang peneliti sebelum mengumpulkan data adalah mengumpulkan subjek. Subjek adalah individu-individu yang ikut serta dalam penelitian dari mana data itu dikumpulkan.
Menurut Sugiyono (2008:117) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek /subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.”
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Harapan Bangsa Tanjung Morawa Tahun Pembelajaran 2010/2011, yang terdiri dari 1 kelas yang berjumlah 34 orang , sebagaimana terlihat dalam tabel di bawah ini:
TABEL 2
JUMLAH SISWA KELAS XI SMA HARAPAN BANGSA
TANJUNG MORAWA
TAHUN PEMBELAJARAN 2010/2011
No Kelas Jumlah
1 XI 34
Jumlah 34
Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang digunakan untuk mewakili subjek penelitian. Untuk menentukan sampel yang diteliti, peneliti mengutip pernyataan Arikunto (2006:134) yang mengatakan bahwa “untuk sekedar ancang-ancang, maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Tetapi, jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih.”
Berdasarkan kutipan di atas, maka sampel dalam penelitian ini adalah panelitian populasi, yang disebut juga dengan sampel total yang berjumlah 34 Orang.
Metode Penelitian
Dalam suatu penelitian, metode sangat penting. Karena berhasil tidaknya suatu penelitian sangat ditentukan oleh metode yang digunakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Metode eksperimen digunakan dengan maksud melihat akibat dari suatu perlakuan. Sesuai dengan tujuan penelitian di atas, penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan model Pre Test-Post Test. Metode ini digunakan untuk mengetahui pengaruh metode demonstrasi terhadap kemampuan siswa dalam memahami syair.
Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini ada dua variabel yang harus dijelaskan agar pembahasan ini lebih terarah dan tidak jauh menyimpang dari tujuan penelitian, variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah:
Pengaruh metode demonstrasi adalah variabel X merupakan variabel bebas.
Kemampuan memahami syair adalah variabel Y merupakan variabel terikat.
Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat pengumpul data yang diperoleh untuk menjawab masalah penelitian. Untuk menetapkan instrumen penelitian yang digunakan harus disesuaikan dengan masalah atau variabel yang diteliti.
Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian ini, dan juga sehubungan dengan variabel yang diteliti, maka alat pengumpul data atau ianstrumen yang digunakan adalah observasi dan tes esai. Observasi digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh metode demonstrasi, sedangkan tes esai untuk kemampuan memahami syair.
Observasi
Menurut Arikunto (2006:156) observasi diartikan sebagai suatu aktiva yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan mata. Di dalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra.
Berdasarkan pendapat diatas anak mendemonstrasikan pembacaan syair dengan baik dan menggunakan aturan yang sudah ditetapkan. Instrumen tes ini digunakan untuk mencari data mengenai kemampuan membaca syair. Dalam berbicara ditentukan beberapa aspek yang harus dicapai siswa. Aspek tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Masing-masing aspek yang dinilai sebagai berikut:
TABEL 3
KISI- KISI OBSERVASI PEMBACAAN SYAIR
Aspek yang diukur Skor
Intonasi 20
Tekanan 20
Lafal 20
Jeda 20
Nada 20
Tes esai
Instrumen tes ini digunakan untuk mencari data mengenai kemampuan memahami syair. Dalam hal ini ditentukan beberapa aspek yang harus dicapai siswa. Aspek tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Masing-masing aspek yang dinilai sebagai berikut:
TABEL 4
KISI-KISI PEMAHAMAN SYAIR
Aspek yang dinilai Skor
Tema 25
Pesaraan 25
Nada 25
Amanat 25
Sehingga nilai tertinggi yang akan diperoleh siswa adalah 100 dan terendah adalah 25.
Teknik Analisis Data
Analisis data bertujuan mengelola data agar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Penulis menggunakan organisasi pengelolaan data sebagai berikut:
Menghitung skor observasi pembacaan, kemudian mencari nilai rata- rata dengan cara membagi skor dengan jumlah siswa.
Menghitung skor dan nilai tes kemampuan memahami syair, kemudian mencari nilai rata- rata dengan cara membagi jumlah nilai dengan jumlah siswa.
Membandingkan nilai rata-rata dengan patokan nilai yang dikemukakan Arikunto (2002:234) sebagai berikut:
80 – 100 Sangat baik
66 – 79 Baik
56 – 65 Sedang
40 – 55 Kurang
– 39 Sangat kurang
Mencari pengaruh metode demonstrasi terhadap kemampuan memahami syair dengan menggunakan teknik statistik dengan rumus “Korelasi Product Moment.” Sehinga yang dikemukakan Sugiono (2006: 148).
rxy=(NΣXY-(ΣX)(ΣY))/√({NΣX^2-(ΣX)^2 }{NΣY^2-(ΣY)^2 )
rxy = koefisien korelasi
X = nilai variabel bebas
Y = nilai variabel terikat
ΣXY = jumlah perkalian X dan Y (skor X dan Y)
ΣX = jumlah skor untuk variabel X (pengaruh metode demonstrasi)
ΣY = jumlah skor untuk variabel Y (kemampuan memahami syair)
ΣX2 = jumlah kuadrat setiap X
ΣY2 = jumlah kuadrat setiap Y
Pengertian Hipotesis
Untuk menguji hipotesis ini digunakan tabel harga titik “r” dengan membandingkan “r hitung dengan r tabel.” Jika r hitung > r tabel, maka Ha diterima, sebaliknya jika r hitung < r tabel. Ho ditolak. Selanjutnya diperoleh besar pengaruh metode demonstrasi terhadap kemampuan memahami syair dengan indeks determinasi r menjadi r2.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 1992. Penelitian Pendidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa.
Alisjahbana, Sutan Takdir. 2009. Puisi Lama. Jakarta: Dian Rakyat.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek. Jakarta: Bina Aksara.
Departemen Agama RI. 2000. Al-Qqur’an dan Terjemahannya. Semarang : Toha Putra.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Roestiyah, NK. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Sugiarto, Eko. 2010. Mengenal Pantun dan Puisi Lama. Jakarta: Pustaka Widyatama.
Sugiono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Surakhmad, Winarno. 1990. Pengantar Penelitian Ilmu Dasar Metode dan Teknik. Bandung: Warsito.
Tarigan, H.G. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Gelora Angkasa.
Waluyo, Herman. J. 2005. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia.
LAMPIRAN
OBSERVASI METODE DEMONSTRASI
Pre test sebelum menggunakan metode demonstrasi
Siswa membaca syair dengan Lafal, Tekanan, Intonasi, Jeda, Nada yang tepat.
Post test setelah menggunakan metode demonstrasi
Siswa membaca syair dengan Lafal, Tekanan, Intonasi, Jeda, Nada yang tepat.
TES PEMAHAMAN MAKNA SYAIR
PETUNJUK
Tuliskan nama dan kelas Anda pada kertas jawaban.
Bacalah syair “Abdul Muluk” dengan cermat dan pahami maknanya sebelum Anda menjawab setiap pertanyaan yang menyertainya.
Jawablah pertanyaan yang ada di lembar soal!
Setiap soal yang Anda jawab akan diberi nilai.
Waktu mengerjakan 60 menit.
Selamat Bekerja!!!
Syair Abdul Muluk
Berhentilah kisah raja Hindustan,
Tersebutlah pula suatu perkataan,
Abdul Hamid Syah paduka sultan,
Duduklah baginda bersuka-sukaan.
Abdul Muluk putra baginda,
Besarlah sudah bangsawan muda,
Cantik menjelis usulnya syahda,
Tiga belas tahun umurnya ada.
Parasnya elok amat sempurna,
Petah menjelis bijak laksana,
Memberi hati bimbang- gulana,
Kasih kepadanya mulia dan hina.
Akan Rahmah puteri bangsawan,
Parasnya elok sukar dilawan,
Sedap manis barang kelakuan,
Sepuluh tahun umurnya tuan.
Sangatlah suka duli mahkota,
Melihat puteranya besarlah nyata,
Kepada isteri baginda berkata,
"Adinda Nin apalah bicara kita?
Kepada fikir kakanda sendiri,
Abdul Muluk kemala negeri,
Baiklah kita beri beristeri,
Dengan anakanda Rahmah puteri,"
Permaisuri menjawab madah,
"Sabda kakanda benarlah sudah,
Akan anakanda Sitti Rahmah,
Patutlah sudah ia berumah."
Bertitah pula baginda sultan,
"Esok hari istana hiaskan,
Adinda jangan berlambatan,
Kerja nin hendak kakanda segerakan."
Mendengarkan titah sultan paduka,
Permaisuri menjawab lakunya suka,
"Alat perkakas hadirlah belaka,
menantikan sampai saat ketika."
Telah sudah baginda berperi,
Berangkat keluar mahkota negeri,
Serta sampai ke balairung sari,
Didapati hadir sekalian menteri.
Lalulah bertitah baginda sultan,
Kepada Mansur wazir pilihan,
"Berhadirlah kakanda alat pekerjaan,
Abdul Muluk hendak dikawinkan.
SOAL
Jelaskan maksud “Abdul Muluk” sebagai judul syair di atas!
Analisislah unsur-unsur di atas. Dari Tema, Perasaan, Amanat!
Tuliskan ciri-ciri syair di atas!
Siapakah nama bapak Abdul Muluk?
Dari golongan keluarga apakah Abdul Muluk?
Berapakah umur Abdul Muluk pada bait ke 2?
Siapakah yang berumur 10 tahun?
Bahasa apakah yang digunakan dalam syair Abdul Muluk?
Apa yang ada dalam pikiran raja tentang Abdul Muluk?
Kemukakan makna syair itu secara keseluruhan!
Langganan:
Postingan (Atom)